Ponosov dan Kesiapan Kita

Entah sebelumnya mimpi apa si Alexander Ponosov, seorang kepala sekolah sebuah sekolah menengah di desa terpencil daerah Ural, Rusia. Dia diancam akan dijebloskan ke penjara oleh kepolisian Rusia. Apa sebab? Ternyata si kepala sekolah ini ketahuan menggunakan software MS Windows bajakan di sekolahnya.

Berita yang muncul dari pedalaman Rusia ini kemudian mencuat ke dunia internasional setelah mantan presiden dan juga pemenang nobel perdamaian, Mikhail Gorbachev, mengirimkan surat terbuka ke Bill Gates, sang bos Microsoft, agar mau mengampuni Ponosov. Menyedihkan memang. Ponosov yang seorang guru, dengan gaji yang menurut Gorbachev pas-pasan, mungkin mirip dengan kondisi guru di Indonesia, yang telah berkorban mendedikasikan waktunya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak didiknya walau dengan gaji seadanya, bukannya mendapat penghargaan, namun justru ancaman penjara.

Banyak pihak yang mengkritik penangkapan Ponosov. Menurut mereka justru si penjual komputerlah yang seharusnya ditangkap, karena Ponosov yang tidak tahu-menahu tentang lisensi hanya sekadar membeli komputer yang telah terinstall Windows di dalamnya, dan menggunakannya di sekolahnya.
Microsoft sendiri menyatakan tidak terlibat dalam kasus ini, karena penangkapan atas Ponosov adalah murni usaha pemerintah Rusia sendiri yang mencoba memberantas pembajakan software di negerinya, agar dapat bergabung ke dalam WTO (organisasi perdagangan dunia).
Kasus ini kemudian membawa trauma bagi para guru di daerah itu ketika ingin menggunakan software berbayar. Hingga departemen pendidikan di sana berencana me-Linux-kan semua sekolah untuk menghindari kasus serupa.

Tentu ada pelajaran yang bisa kita petik dari kasus ini, terutama bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Siapkah sekolah-sekolah kita, terutama yang di daerah, jika usaha memberantas pembajakan software yang dilakukan pihak kepolisian merambah ke lembaga pendidikan? Atau sudah adakah usaha kita untuk menghindari kasus serupa?
Semoga kasus Ponosov tidak akan terjadi di tanah air kita. Semoga.

powered by performancing firefox
(lagi nyoba :) )

Audio Player di WP

Pekan lalu pengelola WordPress.com mengumumkan ketersediaan player audio di blog WordPress.com. Sebuah kabar gembira terutama bagi saya yang dulu sangat ingin menaruh file audio di sebuah postingan. Sebenarnya jika sekadar menaruh file audio seperti yang banyak ditemui di Blogspot, bisa saja kita menggunakan Odeo. Hanya saja saya lebih suka dengan tampilan player yang ditawarkan WordPress (WP) ini.

Awal melihat player ini dari postingan Paman Tyo. Tampilannya simple, minimalis, nggak neko-neko, khas WordPress. Sayangnya Odeo tidak menggunakan tampilan ini (*maksa*). Itulah mengapa pengumuman tadi saya anggap kabar gembira, karena akhirnya keinginan itu terkabul juga.

Untuk bisa mengupload file audio ke WordPress ini kita harus upgrade space di WordPress yang tentu saja harus bayar ke Paman Matt. Untungnya pengelola WP cukup adil. Sepanjang file audio ini ada di internet, maka kita bisa merujuk ke alamat URL file ini. Jadi Anda cukup mencari file audio di internet dengan audio search engine SingingFish atau mengupload file audio milik Anda ke server penyedia space gratisan yang cukup banyak di internet. Untuk sekadar mencoba, saya menggunakan Yahoo! Briefcase yang memberikan free space sebesar 30MB bagi setiap pemilik akun email di Yahoo! Cukup sign-in ke situ, kemudian upload file layaknya melampirkan file ketika mengirim email. Jika diperlukan space yang lebih besar, Anda tinggal mencari penyedia space gratisan lewat bantuan Paman Google.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan ketersediaan audio player di WP ini. Bagi yang memanfaatkan blog sebagai media edukasi, player audio ini dapat dimanfaatkan untuk menampilkan rekaman audio suatu perkuliahan (misalnya). Bisa juga digunakan untuk audio blogging. Untuk saya sendiri, cukup untuk menampilkan musik pilihan saya (hehehe…). Hanya saja, berada di Indonesia yang koneksi internetnya lemot (atau malah fakir benwitTM), kita haus arif dalam menampilkan file audio ini. Jangan yang berukuran terlalu besar sehingga memberatkan pengunjung.
Selamat mencoba.

Update:
Ternyata tautan ke file di Yahoo! Briefcase berubah secara acak, sehingga file audio yang di simpan di sana akan sering gagal diakses dari audio player WP. Begitu juga dengan beberapa hostingan gratis lainnya. Diskusi untuk topik ini bisa diikuti di forum WP

Update2:
Kali ini hosting saya pindah ke esnips.com. Caranya: buat akun di esnips, sign-in, kemudian upload file audio Anda. Setelah ter-upload, klik pada file audio (yang selanjutnya menuju ke halaman download). Klik kanan pada tombol download dan pilih Copy Link. Url pada tombol download tersebut yang digunakan sebagai input untuk menampilkan player audio di blog WP, sebagai contoh:
[audio http://www.esnips.com/nsdoc/fe-8055-fe169d6e5c20/?action=forceDL%5D
( NB. kata “audio” jangan ditebalkan ), maka hasilnya adalah seperti player di atas.

Update3:
(mungkin) update terakhir. Url file audio yang diarahkan ke esnips kadang tidak dapat diakses oleh player WP ini (kadang bisa jalan juga, *aneh*). Dan sepertinya banyak hostingan gratisan lainnya yang berkelakuan sama. Untuk yang terakhir kali, file audio coba saya taruh ke eggdisk.com. Jika Anda menemukan hosting gratisan lain yang lebih reliable dan dapat diakses oleh player WP, kabari saya. :)

Untukmu

tangan halus dan suci
tlah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan

kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang

oh bunda ada dan tiada
dirimu kan slalu ada di dalam
hatiku …

(Bunda, Potret)

==============================================
Teringat dirimu, yang selalu menunggu kepulanganku di depan pintu rumah tiap sore.
Kini tanya itu selalu kudengar darimu. Kapan kembali?
Aku pasti kembali. Enam purnama lagi.
Happy Mother Day, Mum! Wish you the best.

Bintang Kenangan

“Semalam aku bermimpi, menonton langit malam bertabur bintang. Lalu kau pilihkan sebuah bintang untukku”
Itu ujarmu di sebuah pagi, dengan mata yang berbinar, dan senyum kegembiraan.

Akhirnya kau juga ikut menikmati gemerlap para bintang. Kau nikmati keindahan mereka dalam anganmu. Saat inderamu tak mampu menatap indahnya kerlip dan warna mereka. Kau akan gembira dengan ceritaku tentang bintang yang kutemukan malam sebelumnya.

“Semalam aku melihat bintang yang sangat terang. Bersinar riang di atas rumahku”
Itu ujarmu di sebuah pagi yang lain, masih dengan  mata  berbinar, dan senyum kegembiraan.

Akhirnya kau temukan bintangmu. Kerlip yang masih bisa kau nikmati. Tahukah kamu? Kegembiraanmu itu juga yang membawaku mengembara mencari bintangku. Dan di sini, aku masih berdiri menatap bintangmu, yang kesepian karena tak lagi kau pandang. Semoga duniamu bahagia, walau tak lagi dihiasi taburan bintang.

Catatan Akhir Semester (Part 2)

Satu semester kembali berlalu. Saatnya mengevaluasi diri, bercermin kembali apakah semester ini sudah lebih baik dari yang kemarin. Ternyata saya tidak bisa belajar dari kesalahan semester sebelumnya. Malah, semester ini saya serasa berada di titik nadir. Dan saya mulai berkilah, seperti halnya semua yang ada di alam mengikuti pola distribusi normal, namun dalam kasus ini kurvanya terbalik, dimana semangat hanya ada di awal dan di akhir misi sementara terpuruk di tengah-tengah, maka sepertinya memang hal yang sudah sewajarnya terjadi. Namun apakah wajar? Ataukah saya sedang mencoba mencari pembenaran?
Semester ini memang harus saya awali dengan sebuah pengorbanan, yang selalu saya anggap sebagai tugas negara. Walaupun teman saya berujar “memangnya negara peduli dengan pengorbananmu? wong ndengar saja tidak koq”. Yach, namanya saja berkorban, saya tidak akan berpikir soal reward, walaupun saya harus kehilangan. Dan awal yang sulit ini ternyata harus ditambah dengan keraguan atas langkah yang sudah saya tempuh. Keraguan yang baru muncul setelah kampung saya diporak-porandakan gempa. Sebuah kesadaran yang awalnya tertutup rapat oleh sebuah idealisme. Lagi-lagi saya mencoba berkilah, “hei bukankah ini hak setiap bangsa? walau sebenarnya negara sekarang belum butuh tapi bisa jadi berguna buat cucu-cicit kita”. Dan sekali lagi teman saya berujar “memangnya bangsa kita sekarang butuh apa sich?”.
Semua pembenaran hanya akan menutup mata kita dari kesalahan yang telah dilakukan. Akan lebih baik jika kita mengakui kesalahan itu dan mencoba berjanji untuk tidak akan mengulangi, walau janji yang belum tentu akan ditepati. Sebuah komitmen basi memang. Dan hanya harapan yang coba saya tanam di kepala, semoga semester depan akan lebih baik lagi. Semoga.

yang terabaikan

Karena terlalu sering berada di kamar lain, akhirnya kamar yang di sini malah tidak terurus. Meskipun awalnya saya bikin woro-woro kalau dua kamar akan memiliki postingan yang sama (cross-posting), kenyataannya proses cross-posting hanya berjalan tiga kali, setelah itu…macet, apalagi kalau bukan karena penyakit malas. Padahal, jika dilihat sejarahnya (halah!), kamar di sini adalah kamar pertama saya. Tempat saya bercerita kepada sodara-sodara saya di kampung soal perjalanan saya (maklum, orang udik :D). Sedangkan kamar lain saya jadikan tempat “muni-muni” di kala hati sedang sendu.  Kalaupun ternyata kamar lain lebih ramai pengunjung, itu di luar perkiraan saya. Selera pasar? entahlah.
Senyampang kamar ini sepi pengunjung, sepertinya saya tukar posisi saja. Biarlah kamar lain saya jadikan tempat bercerita pada sodara-sodara di kampung soal perjalanan saya. Saya akan “muni-muni” di sini saja. Sekalian meramaikan kamar yang sepi ini.

Ketika Bahasa Kita Beda

Setahun yang lalu, ketika pulang dari pelatihan bahasa selama 3 bulan di Bali, saya mengalami penyakit aneh, kehilangan kemampuan berbahasa kromo inggil (bahasa jawa halus yang biasa dipakai untuk bercakap dengan orang tua). Penyakit ini sangat mengganggu karena saat itu bertepatan dengan lebaran dimana saya banyak berinteraksi dengan para orang tua. Sepertinya, karena 3 bulan tidak dipakai, bahasa itu menguap dari otak depan saya.
Berada di benua kangguru ini, kekhawatiran kehilangan bahasa asal juga ada, karena beberapa senior di sini yang kadang menjenguk kampung halaman mengeluhkan hal yang sama. Terutama pada anak mereka yang justru lebih fasih berbahasa inggris dan akhirnya tidak mampu berkomunikasi dengan kakek-nenek mereka. Akhirnya ada senior yang menerapkan cara unik, menggunakan bahasa kromo inggil jika sedang di rumah. Jadinya, bahasa si anak malah campur aduk antara bahasa kromo inggil dengan bahasa Inggris dan sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia (kecuali secara pasif)!
Kebetulan di sini banyak yang berasal dari Jawa (mayoritas dari Jawa Timur), terutama anggota genk saya. Saya kemudian memutuskan untuk menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi dalam segala hal yang bersifat informal dengan sesama orang Jawa. Jadi dalam satu hari kami menggunakan tiga bahasa sekaligus! (Jawa-Indonesia-Inggris). Teman saya malah ada yang menambahkan penggunaan bahasa Arab ketika ngobrol dengan teman-teman dari Timur Tengah!(waw, kewl!). Metode ini bukannya tanpa masalah, kemampuan bahasa Inggris tetap acakadut, bahasa Jawa jadinya bahasa ngoko semua (bahasa Jawa kasar untuk bercakap dengan teman sebaya), bahasa Indonesia? hehehe.. untungnya ada Blog ini. Payahnya jika menelpon orang tua di kampung, saya hanya berani pakai bahasa Indonesia, ternyata bahasa kromo inggil saya mulai sirna!
Dan jangan dikira berbahasa Jawa ngoko ini tanpa hambatan. Sebagai orang Jogja, ngomong dengan teman-teman yang asli Surabaya lebih sering miskomunikasinya. Seperti dalam percakapan dengan teman satu rumah beberapa bulan lalu:

cah Jogja: Koyoke lawang kulah kae rusak yo?
arek Suroboyo: Lawang ngendhi?
cah Jogja : lawang kulah.
arek Suroboyo: lawang ngendhi seh??
cah Jogja: #@$%$#@&%!!!…bathroom!!
arek Suroboyo: wooo…jedhing!
cah Jogja : jedhing??

atau yang ini:

cah Jogja: sidho kapan nang konsulat?
arek Suroboyo: mene.
cah Jogja : kapan?
arek Suroboyo : mene!
cah Jogja : #@#%$#$!!…kapan sih??
Setelah beberapa hari baru tahu kalau “mene” itu “besok”.

Tersadar, ternyata ada banyak sekali dialek Jawa dengan kosakata yang berbeda . Bayangkan jika kita tidak memiliki bahasa Indonesia. Itu belum termasuk untuk berkomunikasi dengan teman-teman dari pulau lain (Sumatera, Sulawesi, Papua, dll). Dan tersadar juga, usaha para pemuda bangsa pada 28 Oktober 1928 yang akhirnya menelurkan Sumpah Pemuda dimana mereka berkeinginan agar Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu bangsa, ternyata merupakan usaha yang sangat berharga.

Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
(quoted from: wikipedia)


Tentang Sekadar Coretan

sekadar goresan saya di kala sempat ataupun disempatkan. Tidak layak untuk dijadikan bahan diskusi apalagi dijadikan bahan referensi. Perhatian: Tidak cocok untuk anak di bawah 3 tahun. Jika kunjungan berlanjut, hubungi dokter. Goresan lainnya dapat dinikmati di kamar lain.

Blog Stats

  • 2,156 hits
Karena aku berdiri di atas tanah yang bergoyang!

RSS Gempa terkini (GEOFON)

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.